Minggu, 18 September 2016

Pendidikan Kehidupan





“Kartu Ujian Untuk Seorang Cucu Direktur Pertamina”

Seorang anak duduk didepan ruang kelasnya. Sabtu siang itu, dia sendiri sambil menatap lirih sekolahnya yang mulai hening. Teman-temannya sudah pulang dan mungkin sudah tertidur pulas dirumahnya masing-masing. Senin adalah ujian nasionalnya. Dia kelas 3 SMA dan akan segera lulus. Dan sabtu siang bolong itu dia belum mempunyai kartu nomer ujian. Bagaimana bisa dia ikut ujian nasional sementara kartu ujian dia belum punya. Kita semua tau, peraturan disekolah-sekolah adalah jika seorang siswa belum membayar beberapa administrasi maka dia tidak mendapatkan kartu untuk mengikuti ujian. Tak peduli itu ujian nasional atau ujian akhir semester.

Beberapa menit setelah berfikir bagaimana caranya dia agar mendapatkan kartu ujian itu?. Dia mulai beranjak dari tempat duduknya. Kakinya mulai melangkah menuju kantor ruang guru. Dia mulai memandangi depan ruang guru yang sangat mewah itu. Didalamnya terdapat guru-guru yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Teringat beberapa bulan lalu. Saat hendak menjalani Ujian Akhir Semester. Dia dan ayahnya menghadap ke wali kelas untuk meminta keringanan agar dapat kartu ujian untuk bisa ikut ujian akhir semester. Yah.. orang tuanya belum bisa membiayai sekolahnya karenanya dia dan ayahnya harus menghadap ke wali kelas agar bisa mengikuti ujian. Orang tuanya berjanji untuk melunasi biaya administrasi sekolah setelah ujian selesai. Namun sampai pada Ujian Nasional sekarang, biaya adminitrasi sekolahnya belum juga dibayar oleh orang tuanya.

Kali ini, dia harus menghadap guru kembali agar bisa mengikuti ujian nasional akhir disekolahnya. Dia sendiri. Orang tuanya tak ada yang mendampingi.

Seorang guru mendatangi dan mengagetkannya :

“Cari siapa nak?”
“ehm…eh iyaa bu. Saya mencari kepala sekolah. Apa dia belum pulang?”
“itu ada diruanganya, langsung kesana saja.”
“iya bu makasih”

Yah.. tak ada yang bisa membantunya kecuali kepala sekolah. Dia pun menuju ruang kepala sekolah. Bapak kepala sekolah dengan ramah menyambutnya :

“Ada perlu apa nak?”
“Pak, saya dari kelas tiga. Dan senin besok harus mengikuti ujian nasional. Tapi saya belum memegang kartu ujian pak.”
“loh kenapa belum?” Tanya kepala sekolah heran.
“Saya masih punya tanggungan adminitrasi di TU dan ayah saya belum bisa melunasi”
“Kenapa bukan ayahmu yang menghadap?”

Anak itu berdiri dan mendekat ke kepala sekolah sambil menunduk.

“bantu saya pak, saya ingin mengikuti ujian. Ayah saya sudah terus berjanji kepada wali kelas untuk membayarnya namun ayah saya masih belum bisa melunasi sampai sekarang”
“Bapak boleh suruh saya apapun, membersihkan sekolah, menyapu, atau apapun itu. Yang penting saya bisa mengikuti ujian pak. Setelah ujian ini, saya akan cari kerja untuk membayar utang saya disekolah”

Kepala sekolah langsung berdiri dan menyuruh anak itu untuk menunggu. Beberapa menit kepala sekolah dating dan memberikan kartu ujian itu kepadanya :

“belajarlah yang rajin. Jangan mengecewakan bapak” kata kepala sekolah sambil menyodorkan kartu ujian ditangannya.

Yah… sebuah pengorbanan kecil kepala sekolah yang tidak akan pernah dia lupakan. Tidak ada yang tau bahwa. Anak itu cucu dari pensiunan direktur pertamina. Entah logis atau tidak, seorang cucu dari direktur pertamina itu, untuk membayar sekolah di SMA saja tidak mampu.
Baginya, sekolah adalah pengetahuan yang dibayar. Dan pendidikan terbesar yang dia dapat ada pada hidup bukan pada sekolah. Pendidikan terbesar itu gratis.  Pendidikan yang dibayar adalah sesuatu yang tidak bisa kau terapkan saat menghadapi masalah atau mengambil keputusan. Karena untuk pelajaran tentang kehidupan kau hanya perlu belajar bagaimana menghadapi masalahmu, sendiri.

Minggu, 29 Maret 2015

Kenangan





Adalah hantu di sudut mimpi
Yang tak kasat mata namun seperti membayangi
Seperti lukisan tua dalam jiwa
Walaupun berdebu, ia tetap tak bisa hilang, selalu ada
Seperti hantu tadi
Ia juga tembus pandang namun mampu menyentuh dinding hati
Yang bahkan kokohnya seperti karang dasar lautan
Layaknya lukisan tadi
Ia hanya tinggal goresan, namun seperti roh
Yang terkadang menghangatkan, tak jarang juga mendinginkan



Lihatlah dia, seperti masa lalu yang abadi
Yang walau menggunakan rumus aristoteles pun
Tetap tak mampu untuk menjelaskan dan menjabarkannya
Yang walau menggunakan jurus saktipun
Tetap tak mampu membuatnya pergi
Bagaimana bisa sesuatu yang tinggal puing-puing
Menjadi satu yg tak bisa dilenyapkan
Bagaimana bisa bayangan yang tak semu ?
Menjadi Masa lalu yang hidup di masa kini


Itulah dia
Yang tak tertulis
Yang tak tergambar
Yang tak terungkap
Dan tak berwujud
Namun hidup dan terpendam dalam benak paling dalam
Akan selalu teringat seperti sejarah yang kelam
Akan selalu ada seperti bayangan yang mengikuti langkah yang berjalan


Kamis, 19 Februari 2015

Sahabat petualang

WEDI IRENG BANYUWANGI
BERSAMA SAHABAT-SAHABATKU YANG DOYAN BERPETUALANG :)
MASA-MASA KAYAK GINI TAK TERLUPAKAN


 ZUTUP, GUE, NDUT, SINO

 ZUTUP, GUE, SINO

 NDUT, ZUTUP, GUE (Ini foto colongan loh, kita pada gak tau kalo algi difoto, Fotografernya si Sino )


 Nah yang ini nih satu kampung :)
Hehe gak se, ini cowok-cowok gak ada yang gue kenal sebenarnya sstt
Ini diambil waktu kita on the way ke pantai wedi ireng naik turun bukit, eh gak sengaja ketemu mas mas ini. Ketemu langsung minta foto hehe mereka baik baik loh



Thanks udah liatin foto-foto aku :)

Sabtu, 08 Maret 2014




Goresan dalam Kegelapan



Seperti sebuah karang yang  didera ombak
Alone In Love
Aku berdiri dan berlari melawan letihku
Seperti bak ombak itu
Aku berusaha terus membendung emosiku

Seperti api yang membara
Aku hingga menitihkan air mata
Melawan amarahku
Jiwaku menentangku
Ingin memberontak karena keadaanku
Aku sangat marah dengan keadaanku
Berusaha keras aku melawan emosiku
Hingga telah benar-benar aku berair mata

Allah melunakkanku
Aku terus berperang melawan egoku
Allah terus menghujaniku
Aku mulai menyerah
Bukan pada kehidupan aku menyerah
Tapi kepada rasa amarah
Dan mulai mereda
Ikhlas seharusnya aku menerima
Aku akan terus hidup dan baik baik saja
Meski semua berjalan tidak sempurna
Allah senantiasa memberi jalan yang indah disetiap luka