“Kartu Ujian Untuk
Seorang Cucu Direktur Pertamina”
Seorang
anak duduk didepan ruang kelasnya. Sabtu siang itu, dia sendiri sambil menatap
lirih sekolahnya yang mulai hening. Teman-temannya sudah pulang dan mungkin
sudah tertidur pulas dirumahnya masing-masing. Senin adalah ujian nasionalnya.
Dia kelas 3 SMA dan akan segera lulus. Dan sabtu siang bolong itu dia belum
mempunyai kartu nomer ujian. Bagaimana bisa dia ikut ujian nasional sementara
kartu ujian dia belum punya. Kita semua tau, peraturan disekolah-sekolah adalah
jika seorang siswa belum membayar beberapa administrasi maka dia tidak
mendapatkan kartu untuk mengikuti ujian. Tak peduli itu ujian nasional atau
ujian akhir semester.
Beberapa
menit setelah berfikir bagaimana caranya dia agar mendapatkan kartu ujian itu?.
Dia mulai beranjak dari tempat duduknya. Kakinya mulai melangkah menuju kantor
ruang guru. Dia mulai memandangi depan ruang guru yang sangat mewah itu.
Didalamnya terdapat guru-guru yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Teringat
beberapa bulan lalu. Saat hendak menjalani Ujian Akhir Semester. Dia dan
ayahnya menghadap ke wali kelas untuk meminta keringanan agar dapat kartu ujian
untuk bisa ikut ujian akhir semester. Yah.. orang tuanya belum bisa membiayai
sekolahnya karenanya dia dan ayahnya harus menghadap ke wali kelas agar bisa
mengikuti ujian. Orang tuanya berjanji untuk melunasi biaya administrasi
sekolah setelah ujian selesai. Namun sampai pada Ujian Nasional sekarang, biaya
adminitrasi sekolahnya belum juga dibayar oleh orang tuanya.
Kali
ini, dia harus menghadap guru kembali agar bisa mengikuti ujian nasional akhir
disekolahnya. Dia sendiri. Orang tuanya tak ada yang mendampingi.
Seorang
guru mendatangi dan mengagetkannya :
“Cari
siapa nak?”
“ehm…eh
iyaa bu. Saya mencari kepala sekolah. Apa dia belum pulang?”
“itu
ada diruanganya, langsung kesana saja.”
“iya
bu makasih”
Yah..
tak ada yang bisa membantunya kecuali kepala sekolah. Dia pun menuju ruang
kepala sekolah. Bapak kepala sekolah dengan ramah menyambutnya :
“Ada
perlu apa nak?”
“Pak,
saya dari kelas tiga. Dan senin besok harus mengikuti ujian nasional. Tapi saya
belum memegang kartu ujian pak.”
“loh
kenapa belum?” Tanya kepala sekolah heran.
“Saya
masih punya tanggungan adminitrasi di TU dan ayah saya belum bisa melunasi”
“Kenapa
bukan ayahmu yang menghadap?”
Anak
itu berdiri dan mendekat ke kepala sekolah sambil menunduk.
“bantu
saya pak, saya ingin mengikuti ujian. Ayah saya sudah terus berjanji kepada
wali kelas untuk membayarnya namun ayah saya masih belum bisa melunasi sampai
sekarang”
“Bapak
boleh suruh saya apapun, membersihkan sekolah, menyapu, atau apapun itu. Yang
penting saya bisa mengikuti ujian pak. Setelah ujian ini, saya akan cari kerja
untuk membayar utang saya disekolah”
Kepala
sekolah langsung berdiri dan menyuruh anak itu untuk menunggu. Beberapa menit
kepala sekolah dating dan memberikan kartu ujian itu kepadanya :
“belajarlah
yang rajin. Jangan mengecewakan bapak” kata kepala sekolah sambil menyodorkan
kartu ujian ditangannya.
Yah…
sebuah pengorbanan kecil kepala sekolah yang tidak akan pernah dia lupakan. Tidak
ada yang tau bahwa. Anak itu cucu dari pensiunan direktur pertamina. Entah logis
atau tidak, seorang cucu dari direktur pertamina itu, untuk membayar sekolah di
SMA saja tidak mampu.
Baginya,
sekolah adalah pengetahuan yang dibayar. Dan pendidikan terbesar yang dia dapat
ada pada hidup bukan pada sekolah. Pendidikan terbesar itu gratis. Pendidikan yang dibayar adalah sesuatu yang
tidak bisa kau terapkan saat menghadapi masalah atau mengambil keputusan.
Karena untuk pelajaran tentang kehidupan kau hanya perlu belajar bagaimana
menghadapi masalahmu, sendiri.


